Jengkol Bertasbih - Saat
itu panas di luar rumah sangat terik, kayaknya matahari lagi 'on fire'
nih. Walaupun begitu, kewajiban untuk melaksanakan shalat Jumat tidak
akan mampu terhalang karena cuaca yang cukup terik kala itu. Jarak
antara rumah saya dengan mesjid lumayan jauh, sekitar 300 m. Apalagi
saat itu nggak ada motor, terpaksa lah saya berjalan kaki, itung-itung
olah raga.
![]() |
| Jengkol Bertasbih |
Sesampainya di mesjid, ternyata bagian
dalamnya sudah terisi penuh. Dengan agak memaksa, saya pun masuk dan
duduk di bagian dekat pintu (Sampai saat itu, belum terjadi apa-apa).
Setelah adzan berkumandang, beberapa jamaah melaksanakan shalat sunnah
Qabla Jumat. Otomatis shaf-shaf depan yang masih kosong mulai terisi
oleh jamaah dari bagian belakang karena kebanyakan dari mereka
melaksanakan shalat sunnah tersebut. Karena ingin mendapat tempat, saya
pun ikut maju ke shaf depan. Cuaca yang terik tentu membuat suasana di
dalam mesjid menjadi panas. Namun semilir angin dari pintu kiri dan
kanan mesjid sedikit menyejukkan, mengurangi kegerahan.
Setelah para jamaah selesai menunaikan
shalat, seperti biasa khatib mulai membaca khutbahnya. Semilir angin
yang semula menyejukkan mulai berubah aroma. Yup, bau jengkol atau petai
(saya juga nggak tahu persis), yang jelas bau banget, menyeruak di
sekitar shaf tempat saya duduk. Perlahan-lahan, saya menengok kanan kiri
dan ke belakang mencari-cari sumber 'aroma terapi'. Lalu, dengan suara
agak ngebass, beliau mengamini doa yang dibacakan oleh khatib. Serempak,
semilir aroma itu kembali muncul. Akhirnya saya tahu siapa dalangnya.
Sekali lagi saya tengok beliau, ternyata seorang guru. Sambil sesekali
menahan nafas, saya mencoba menutup hidung menggunakan bagian kerah
baju. Dalam hati, "Alhamdulliah, sumber aroma ada di belakang shaf saya,
apa jadinya kalau dia duduk di samping. Duduk di belakang aja baunya
ampun-ampunan deh "
Adzan kedua lalu dikumandangkan (ritual
Shalat Jumat di tempat saya melaksanakan dua kali adzan). Kembali,
beberapa orang maju ke shaf depan karena beberapa barisan memang belum
rapat. And what was happened? That's right, He moved forward and sat behind me.hahaha...Kali
ini aroma itu betul-betul tercium sangat tajam. Imam pun memulai Shalat
Jumat dengan lantuna takbiratul ihram, diikuti para ma'mum. Dalam
melaksanakan shalat, beberapa bacaannya sengaja disuarakan seperti
mengucap lafadz "Allahu Akbar", Tahiyyat, Bacaan saat Sujud dll. Nah,
saat-saat bacaan tadi diucapkan, aroma petai/jengkol ikut tersangkut
pada indera penciuman saya. Ya Allah, I couldn't get concentration,
nggak bisa (mencoba) khusuk ini mah. Apalagi saat sujud, beuhhh, yang
ada cuma uab alias bau. Mau pindah shaf juga nggak mungkin, shaf depan
sudah terisi penuh. dan shalat sudah dimulai. Satu yang saya lakukan,
Tarik Nafas dalam-dalam, lalu tahan pada saat moment-moment tertentu.
Pengalaman saya di atas merupakan bukti
nyata, mengapa sebagian ulama memakruhkan memakan makanan yang memiliki
aroma menyengat seperti bawang merah, bawang putih, petai (peuteuy in Sundanese) dan jengkol. Jadi, memakan jengkol atau petai itu boleh-boleh saja, halal, namun kurang disukai. jengkol dan petai memang tidak
tercantum dalam Al-Quran maupun alhadits, namun karena mempunyai
kesamaan sifat dengan bawang merah dan bawah putih (tercatat dalam
beberapa hadits), maka hukumnya dipersamakan. Hadits riwayat Muslim
menerangkannya sbb :
“dari Abi Sa’id al Khurdry ketika penaklukan Khaibar, nabi Muhammad saw bersabda : siapa yang memakan dari pohon yang bau ini (bawang merah dan bawang putih) maka janganlah mendekati masjid. Orang-orang pun langsung bercerita-cerita tentang sabda nabi ini, mereka mengatakan : diharamkan, diharamkan. Hingga sampailah isu ini ke rasulullah saw, maka beliau bersabda : wahai umat manusia, sesungguhnya saya tidak mengharamkan apa yang telah Allah halalkan, akan tetapi pohon ini, aku tidak suka baunya.” (H.R Muslim)
Jika ingin memakannya, sebaiknya
makanan-makanan tersebut diolah terlebih dahulu agar bau yang
ditimbulkan setelah memakannya hilang atau berkurang. Hadits dari Umar
bin Khatab menerangkan bahwa:
Ia berkhutbah pada hari Jum’at kemudian berkata dalam khutbahnya: “Kemudian kalian, wahai manusia memakan dua pohon yang aku tidak melihat keduanya kecuali busuk : bawang merah dan bawang putih. Sungguh aku melihat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mendapati bau busuk kedua pohon tersebut dari seseorang dari seseorang di dalam masjid maka beliau memerintahkan agar orang tersebut dikeluarkan ke baqi’, karena itu barangsiapa memakan kedua pohon tersebut hendaklah dia menghilangkan (bau) kedua pohon tersebut dengan memasaknya (diriwayatkan oleh Muslim, Nasai, dan Ibnu Majah dan hadits ini dishohihkan Al Albani dalam shohih targhib wa tarhib 1/205).
Apabila melihat hadits di atas, maka
orang yang memakan jengkol/petai/bawang-bawangan dan menimbulkan bau
tidak diperbolehkan shalat berjamaah di mesjid karena akan mengganggu
jamaah lain. Sebuah hadits menerangkan bahwa :
“Orang yang memakan bawang putih atau bawang merah hendaknya jangan mendekati kami dan rumah ibadah kami “. (H.R. Imam Muslim)
Namun apabila selesai memakan makanan
berbau menyengat tersebut kita menggosok gigi, memakai obat kumur atau
penghilang bau sehingga efek baunya hilang, maka kita diperbolehkan
memasuki mesjid (merujuk pada hadits Umar Bin Khattab R.A.). Lagi pula,
zaman modern saat ini, sudah nggak susah untuk menghilangkan bau setelah
memakan jengkol atau petai. Bisa dengan menggosok gigi, memakan permen
mint atau kukur-kumur dengan List*r*n #bukan iklan.
Walaupun jengkol/petai memiliki manfaat dan khasiat tersendiri,namun perlu diingat jangan sampai memakannya pada situasi dan kondisi tertentu, seperti sesaat sebelum shalat Jumat., pergi ke warung, ngambil raport anak atau ke pengajian Hal ini sangat berisiko mengganggu pihak lain (saya contohnyanya), kecuali kita membersihkan sisa-sisa bau-bauan tersebut sebelum mengikuti aktivitas-aktivitas tadi.
Walaupun jengkol/petai memiliki manfaat dan khasiat tersendiri,namun perlu diingat jangan sampai memakannya pada situasi dan kondisi tertentu, seperti sesaat sebelum shalat Jumat., pergi ke warung, ngambil raport anak atau ke pengajian Hal ini sangat berisiko mengganggu pihak lain (saya contohnyanya), kecuali kita membersihkan sisa-sisa bau-bauan tersebut sebelum mengikuti aktivitas-aktivitas tadi.

0 comments:
Post a Comment